Miss Indonesia Alya Nurshabrina Buka Pameran Lukisan Emansipasi

JAKARTA – Miss Indonesia 2018 Alya Nurshabrina dikenal sangat suka dunia lukis. Kecintaannya pada dunia seni lukis ini sudah muncul sejak dia masih kecil. Dia bahkan sering berujar jika dunia seni sudah menjadi bagian dari dirinya yang sulit dilepaskan.

Alya tidak pernah belajar melukis secara khusus. Dia belajar secara otodidak. Cara ini membuat Alya bisa mengekspresikan sebuah makna dengan caranya sendiri. Bahkan, sampai saat ini Alya mengaku tidak ingin mengotakkan dirinya dalam satu genre seni lukis. Alasannya jelas, dia ingin terus mengeksplorasi bakatnya.

Bicara tentang seni dan Alya Nurshabrina seperti akar dan pohon, tidak bisa dipisahkan. Itu juga yang membuat Alya sangat tertarik pada dunia lukisan. Bahkan, Alya baru saja ditunjuk sebagai pembuka acara pameran lukisan sang maestro dunia seni dan budaya Lima Bintang. Pameran tersebut berlangsung di Institut Français d’Indonésie (IFI) – Wijaya, Jakarta Selatan.

Dalam pidato singkat dalam pembukaan tersebut, Alya coba menggarisbawahi tema dari pameran tersebut, yaitu “Emansipasi”. Bagi perempuan Bandung itu, emansipasi adalah kebebasan dan itu sudah ada sebelum konsep maskulinitas dan feminitas muncul.

“Emansipasi adalah kebebasan dan ini sudah dimiliki manusia sejak lama. Dengan emansipasi ini, sebuah konsep dapat dimaknai dalam berbagai perspektif dan bagi saya seni muncul sebagai bentuk ekspresi dalam menyampaikan makna,” papar dia di acara tersebut, Senin malam (1/4/2019).

Alya melanjutkan, dirinya sangat kagum dengan para maestro Lima Bintang. Menurut dia, lima sosok ini mampu mengolah kepekaan mereka pada isu sosial yang kemudian mereka ekspresikan dalam bentuk seni. “Membahasakan sesuatu yang sulit dimengerti dengan seni adalah kecerdasan yang tak dimiliki banyak orang dan para maestro Lima Bintang memiliki hal itu,” kata dia.

Lima Bintang adalah Remy Sylado, MasPadhik, Mariatiwi, Kembang Sepatu, dan Ipong Purnama Sidhi. Mereka berlima ini adalah sosok-sosok luar biasa di balik seni dan budaya bangsa Indonesia.

Sementara, pameran lukisan itu memilih tema Emansipasi dalam rangka memperingati Hari Kartini yang jatuh pada 21 April. Pameran ini bertujuan untuk menyatukan perbedaan yang sepertinya sekarang ini semakin nyata terlihat. Nah, dengan diciptakannya karya dari Lima Bintang, diharapkan memberi contoh konkrit harmonisasi itu bisa tercipta sekali pun dalam kondisi berbeda agama, suku, ras, maupun kepercayaan.

Alya menambahkan, melihat karya seni yang ditampilkan Lima Bintang, dirinya merasa, karya seni memang bisa mengekspresikan hal yang tidak bisa dijelaskan secara mudah. Keunikan setiap karya dari para seniman juga menjadi hal yang disoroti Alya.

“Bagi saya, semua karya itu luar biasa, terlebih ciptaan Lima Bintang. Mereka berlima ini punya karakteristik tersendiri dan semuanya punya nilai yang luar biasa. Saya percaya antara karya seni dengan penciptanya itu ada kedekatan yang bisa dirasakan dan saya terus belajar untuk bisa melakukan hal tersebut,” ujar dia teriring senyum.

Pameran lukisan Emansipasi ini bisa dinikmati pencinta seni dan masyarakat umum mulai dari 1—30 April 2019 di Institut Français d’Indonésie – Wijaya, Jakarta Selatan. Jadi, jika Anda penasaran ingin melihat bagaimana proses emansipasi tercipta dalam bentuk seni, silahkan datang dan nikmati sendiri sensasinya!

 

Sumber: sindonews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *